Senin - Minggu : 08:00 - 23:00

Informasi Seputar RSUD Batang

Pengumuman, Berita, Artikel, PPID, PKRS, Open Data, Rekrutmen, Dll

PENANGANAN JENAZAH PASIEN COVID-19

DY POLISI BERLATIH JADI TENAGA PEMULASARAN JENAZAH

Jenazah pasien dengan COVID-19 perlu dikelola dengan etis dan layak sesuai dengan agama, nilai, norma dan budaya. Prinsip utama dalam memberikan pelayanan ini adalah seluruh petugas wajib menjalankan kewaspadaan standar dan didukung dengan sarana prasarana yang memadai.

Kriteria jenazah pasien:

  • Jenazah suspek dari dalam rumah sakit sebelum keluar hasil swab
  • Jenazah pasien dari dalam rumah sakit yang telah ditetapkan sebagai kasus probable/konfirmasi COVID-19.
  • Jenazah dari luar rumah sakit, dengan riwayat yang memenuhi kriteria probable/konfirmasi COVID-19. Hal ini termasuk pasien DOA (Death on Arrival) rujukan dari rumah sakit lain

Beberapa Hal yang harus diperhatikan dalam Penanganan Jenazah Pasien Covid-19 diantarnya:

a.       Kewaspadaan saat menerima jenazah dari ruangan dengan kasus suspek/probable/konfirmasi (+) COVID-19 antara lain:

  • Menggunakan APD yang sesuai selama berkontak dengan jenaza
  • Kebersihan tangan sebelum dan sesudah kontak dengan jenazah.
  • Dekontaminasi lingkungan termasuk seluruh permukaan benda dan alat dengan desinfektan.
  • Kewaspadaan terhadap transmisi harus dilakukan terhadap prosedur yang menimbulkan aerosol.
  • Menyiapkan plastik pembungkus atau kantong jenazah yang kedap air untuk pemindahan jenazah.

 

b.     Pelayanan jenazah untuk pasien yang terinfeksi COVID-19:

         1)     Persiapan petugas yang menangani jenazah.

         2)     Pasien yang terinfeksi dengan COVID-19.

         3)     Petugas  yang  mempersiapkan  jenazah  harus  menerapkan  PPI seperti kewaspadaan standar, termasuk kebersihan tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan jenazah,     dan lingkungan.

        4)     Pastikan petugas yang berinteraksi dengan jenazah menggunakan APD sesuai risiko.

        5)     Pastikan petugas telah mengikuti pelatihan penggunaan APD, tata cara pemakaian dan pelepasan, serta membuangnya pada tempat yang telah ditetapkan.

c.       Penanganan  jenazah  di  ruang  rawat  sebelum  ditransfer  ke  kamar jenazah rumah sakit

       1)         Tindakan swab nasofaring atau pengambilan sampel lainnya bila diperlukan dilakukan oleh petugas yang ditunjuk di ruang perawatan sebelum jenazah dijemput oleh petugas kamar jenazah.

       2)         Jenazah ditutup/disumpal lubang hidung dan mulut menggunakan kapas, hingga dipastikan tidak ada cairan yang keluar.

       3)         Bila ada luka akibat tindakan medis, maka dilakukan penutupan dengan plester kedap air.

       4)         Petugas kamar jenazah yang akan menjemput jenazah, membawa:

                   a)        Alat pelindung diri (APD) berupa: masker bedah, goggle/kaca mata pelindung, apron plastik, dan sarung tangan non steril.

                   b)        Kantong  jenazah.  Bila  tidak  tersedia  kantong  jenazah, disiapkan plastik pembungkus.

                   c)        Brankar jenazah dengan tutup yang dapat dikunci.

       5)         Sebelum   petugas   memindahkan   jenazah   dari   tempat   tidur perawatan ke brankar jenazah, dipastikan bahwa lubang hidung dan mulut sudah tertutup serta luka-luka akibat  tindakan medis sudah tertutup plester kedap air, lalu dimasukkan ke dalam kantong jenazah atau dibungkus dengan plastik pembungkus. Kantong jenazah harus tertutup sempurna.

       6)         Setelah itu jenazah dapat dipindahkan ke brankar jenazah, lalu brankar ditutup dan dikunci rapat.

       7)         Semua APD yang digunakan selama proses pemindahan jenazah dibuka dan dibuang di ruang perawatan.

       8)         Jenazah  dipindahkan  ke  kamar  jenazah.  Selama  perjalanan, petugas tetap menggunakan masker bedah.

       9)         Surat  Keterangan  Kematian  atau  Sertifikat  Medis  Penyebab Kematian (SMPK) dibuat oleh dokter yang merawat dengan melingkari jenis penyakit penyebab kematian sebagai penyakit menular sebagaimana formulir terlampir.

      10)      Jenazah   hanya   dipindahkan   dari   brankar  jenazah   ke  meja pemulasaraan jenazah di kamar jenazah oleh petugas yang menggunakan APD lengkap.

d.     Pemulasaraan jenazah di kamar jenazah

       1)         Jenazah  yang  masuk  dalam  lingkup  pedoman  ini  dianjurkan dengan sangat untuk dipulasara di kamar jenazah.

       2)         Tindakan pemandian jenazah hanya dilakukan setelah tindakan desinfeksi.

       3)     Petugas pemandi jenazah menggunakan APD standar.

       4)     Petugas pemandi jenazah dibatasi hanya sebanyak dua orang. Keluarga yang hendak membantu memandikan jenazah hendaknya juga dibatasi serta menggunakan APD sebagaimana petugas pemandi jenazah.

kayim di banjarnegara ikuti pelatihan pemulasaraan jenazah covid 19 di rs islam banjarnegara

5)         Jenazah dimandikan sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.

6)         Setelah   jenazah   dimandikan   dan   dikafankan/diberi   pakaian, jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah atau dibungkus dengan plastik dan diikat rapat.

7)         Bila diperlukan peti jenazah, maka dilakukan cara berikut: jenazah dimasukkan ke dalam peti jenazah dan ditutup rapat; pinggiran peti disegel dengan sealant/silikon; dan dipaku/disekrup sebanyak 4-6 titik dengan jarak masing-masing 20 cm. Peti jenazah yang terbuat dari kayu harus kuat, rapat, dan ketebalan peti minimal 3 cm.

e.     Desinfeksi jenazah di kamar jenazah

1)         Petugas  kamar  jenazah  harus  memberikan  penjelasan  kepada keluarga mengenai tata laksana pada jenazah yang meninggal dengan penyakit menular, terutama pada kondisi pandemi COVID-19.

2)         Pemulasaraan jenazah dengan penyakit menular atau sepatutnya diduga meninggal karena penyakit menular harus dilakukan desinfeksi terlebih dahulu.

3)         Desinfeksi   jenazah   dilakukan   oleh   tenaga   yang   memiliki kompetensi untuk itu, yaitu: dokter spesialis forensik dan medikolegal dan teknisi forensik dengan menggunakan APD lengkap:

a)    Shoe cover atau sepatu boots.

b)    Apron. Apron gaun lebih diutamakan.

c)     Masker N-95.

d)    Penutup kepala atau head cap.

e)    Goggle atau faceshield.

f)     sarung tangan non steril.

4)         Bahan desinfeksi jenazah dengan penyakit menular menggunakan larutan formaldehyde 10% atau lebih dengan paparan minimal 30 menit dengan teknik intraarterial (bila memungkinkan), intrakavitas dan permukaan saluran pernapasan. Setelah dilakukan tindakan desinfeksi, dipastikan tidak ada cairan yang menetes atau keluar dari lubang-lubang tubuh. Bila terdapat penolakan  penggunaan formaldehyde,  maka  dapat  dipertimbangkan  penggunaan  klorin dengan pengenceran 1:9 atau 1:10 untuk teknik intrakavitas dan permukaan saluran napas.

5)         Semua lubang hidung dan mulut ditutup/disumpal dengan kapas hingga dipastikan tidak ada cairan yang keluar.

6)         Pada jenazah yang masuk dalam kriteria mati tidak wajar, maka desinfeksi jenazah dilakukan setelah prosedur forensik selesai dilaksanakan.

f.      Prosedur otopsi jenazah bila dibutuhkan

1)         Otopsi jenazah dengan suspek atau konfirmasi COVID-19 harus dilakukan di ruang isolasi infeksi airborne yaitu dengan tekanan negatif di sekitar areanya, dan mempunyai pertukaran udara minimal 12 ACH.

2)         Pengambilan spesimen berupa nasopharingeal swab pada pasien yang telah meninggal dengan curiga atau konfirmasi COVID-19 tetap memerlukan penggunaan APD yang sesuai dengan risiko penularan, minimum APD yang digunakan adalah:

a)        Sarung  tangan  nitrile  non  steril.  Bila  ada  kemungkinan mempunyai risiko mengenai luka, tertusuk dapat menambahkan sarung tangan tebal diatas sarung tangan tersebut

b)      Gaun

c)     Apron

d)     Respirator (N95 atau > tinggi)

e)     Pelindung mata (googles) atau pelindung wajah (face shield)

f)      Pelindung kepala,

g)     Sepatu pelindung atau boots

3)         Diperlukan kehati-hatian dalam pelepasan APD untuk mencegah kontaminasi ke diri sendiri. Penggunaan dan pelepasan APD dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis APD dalam menghadapi wabah COVID-19. APD yang sudah digunakan bila disposibel dibuang dikantong infeksius, sedangkan APD yang reuse harus dibersihkan dulu dengan sabun sebelum dimasukan dalam wadah limbah. Selanjutnya lakukan kebersihan tangan.

g.     Layanan kedukaan

1)         Setiap orang diharapkan dapat melakukan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.

2)         Persemayaman jenazah dalam waktu lama sangat tidak dianjurkan untuk mencegah penularan penyakit maupun penyebaran penyakit antar pelayat.

3)         Jenazah yang disemayamkan di ruang duka, harus telah dilakukan tindakan desinfeksi dan dimasukkan ke dalam peti jenazah serta tidak dibuka kembali.

4)         Untuk menghindari kerumunan yang berpotensi sulitnya melakukan physical distancing, disarankan agar keluarga yang hendak melayat tidak lebih dari 30 orang.   Pertimbangan untuk hal ini adalah mencegah penyebaran antar pelayat.

5)         Jenazah  hendaknya  disegerakan  untuk  dikubur  atau  dikremasi sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya dalam waktu tidak lebih dari 24 jam.

6)         Setelah  diberangkatkan  dari  rumah  sakit,  jenazah  hendaknya langsung menuju lokasi penguburan/ krematorium untuk dimakamkan atau dikremasi. Sangat tidak dianjurkan untuk disemayamkan lagi di rumah atau tempat ibadah lainnya.

h.     Pengantaran jenazah dari rumah sakit ke pemakaman

1)         Transportasi jenazah dari rumah sakit ke tempat pemakaman dapat melalui darat menggunakan mobil jenazah.

2)         Jenazah yang akan ditransportasikan sudah menjalani prosedur desinfeksi dan telah dimasukkan ke dalam kantong jenazah atau dibungkus dengan plastik yang diikat rapat, serta ditutup semua lubang-lubang tubuh.

88422b18 92ae 45f0 8912 82960a047cf8

i.      Pemakaman

 Beberapa ketentuan dalam pemakaman sebagai berikut:

1)         Pemakaman    jenazah    dilakukan    segera    mungkin    dengan melibatkan pihak RS dan dinas pertamanan.

2)         Pelayat   yang   menghadiri   pemakaman   tetap   menjaga   jarak sehingga jarak aman minimal 2 meter

3)     Penguburan dapat dilakukan di pemakaman umum

4)         Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan pada kondisi darurat.

5)         Pemakaman  dapat  dihadiri  oleh  keluarga  dekat  dengan  tetap memperhatikan physical distancing dengan jarak minimal 2 meter, maupun kewaspadaan standar. Setiap individu pelayat/ keluarga yang menunjukkan gejala COVID-19 tidak boleh hadir.

6)         Jenazah yang menggunakan peti, harus dipastikan peti tersebut telah ditutup dengan erat.

7)         Penguburan jenazah dengan cara memasukkan jenazah bersama peti kedalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik dan kain kafan

8)         Petugas pemakaman harus menggunakan APD standar terdiri dari masker bedah dan sarung tangan tebal. APD yang telah digunakan merupakan limbah medis yang harus dilakukan pengelolaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

j.      Desinfeksi Lingkungan

1)         Alat  medis yang telah digunakan,  didesinfeksi sesuai prosedur desinfeksi di rumah sakit.

2)     Langkah-langkah desinfeksi lingkungan, sebagai berikut:

a)     Cairan yang digunakan untuk desinfeksi lingkungan yaitu: alkohol 70% atau klorin dengan pengenceran 1:50.

b)        Petugas      yang      melakukan      desinfeksi      lingkungan menggunakan APD lengkap.

c)         Desinfeksi  dilakukan  pada  daerah-daerah  yang  terpapar, sebagai berikut:

(1)    Meja pemeriksaan

(2)    Meja tulis

(3)    Punggung kursi

(4)    Keyboard komputer

(5)    Gagang pintu

(6)    Lantai dan dinding ruangan

(7)    Brankar jenazah

(8)    Tombol lift

(9)    Permukaan dalam mobil jenazah

d)     Desinfeksi ruangan dilakukan seminggu sekali.

e)        Desinfeksi     permukaan     brankar,     meja     pemeriksaan, permukaan dalam mobil jenazah dan seluruh permukaan yang berkontak dengan jenazah, dilakukan setiap selesai digunakan.

f)         Desinfeksi alat-alat yang tidak berkontak langsung dengan jenazah, dilakukan satu kali sehari.

g)         Desinfeksi    mobil    jenazah    dilakukan    dengan    cairan desinfektan secara menyeluruh ke permukaan dalam mobil jenazah.

Tabel 6. 1 APD yang Digunakan dalam Proses Pemulasaraan Jenazah

Prosedur

Hand

Hygiene

Sarung

Tangan

Masker

Bedah

Respirator/ N.95

Gown Tangan

Panjang

Kedap Air

Face

Shield

Penanganan jenazah diruang isolasi

V

V

V

 

V

V

Memindahkan jenazah dari ruang rawat/ruang isolasi

V

V

V

 

V

V

Pemulasaraan

/perawatan jenazah

V

V

V

 

V

V

Otopsi jenazah

V

V

 

V

V

V

Petugas pemakaman

 

V

V

     

Sumber: (PAHO, WHO, Dead body management in the context of the novel coronavirus (COVID-

Sumber: PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN CORONAVIRUS DISESASE (COVID-19), KEMENTRIAN KESEHATAN RI, EDISI JULI 2020

RED. PKRS, RSUD BATANG